Mengenal Budaya Unik di Papua

By | Juli 12, 2016

Mengenal Budaya Unik di Papua

Papua adalah tanah di ujung timur Nusantara ini selain terkenal akan keindahan alamnya, juga terkenal akan beragam kebudayannya yang unik. Tak hanya itu saja, rumah adat dan pakaian adat masyarakat Papua pun unik dan menarik. Banyak kebudaan tanah Papua yang mungkin belum Anda ketahui. Untuk mengenal budaya unik yang ada di tanah Papua ini, yuk kita ulas satu persatu.

  1. Kebiasaan Bakar Batu sebagai ungkapan rasa syukur

Tradisi Bakar Batu adalah salah satu tradisi penting di Papua. Tradisi ini adalah semacam ritual masak bersama yang dilakukan oleh warga 1 kampung dengan tujuan sebagai rasa syukur. Ritual ini juga dilakukan sebagai sarana bersilaturahmi. Mengapa dinamakan Bakar Batu? Karena tradisi ini benar – benar membakar batu hingga benar-benar panas membara, kemudian di atas batu tersebut akan ditumpuk makanan yang akan dimasak.

Tradisi ini biasanya dilakukan untuk menyambut kebahagiaan seperti kelahiran, perkawinan adat dan penobatan kepala suku. Tradisi Bakar Batu ini umumnya dilakukan oleh suku pedalaman seperti di Paniai, Lembah Baliem, Nabire, dan oleh suku pegunungan seperti suku Pegunungan Tengah, Pengunungan Bintang, Jaya Wijaya, Dekai, Yahukimo, dll. Tradisi Bakar Batu ini mempunyai nama yang berbeda – beda di tiap daerah misalnya di Paniai dinamakan Gapiia, di Wamena dinamakan Isogoa dan di Jayawijaya dinamakan Barapen.

Adapun cara pelaksanaan bakar batu adalah seperti berikut:

  • Batu ditumpuk di atas perapian dan dibakar hingga batu merah membara.
  • Saat sedang membakar batu, warga lain menggali lubang yang cukup dalam.
  • Lubang tersebut diberi alasa daun pisang dan alang-alang.
  • Batu dimasukan ke dalam lubah yang telah digali tersebut.
  • Di atas batu tersebut ditumpuklah daun pisang lalu diatasnya diletakan daging babi yang diiris-iris. Bagi warga Papua yang Islam, daging babi diganti dengan daging lain yang halal untuk dimakan.
  • Setelah itu, daging tersebut ditutup dengan daun pisang lalu ditumpuk kembali dengan batu panas, lalu diatasnya diletakan daun kembali.
  • Diatas daun tersebut diletakan ubi jalar, singkong dan sayur-sayuran lalu ditutup daun kembali.
  • Batu panas kembali diletakan di atas daun tersebut. Lalu yang terakhir ditutup kembali oleh daun pisang dan alang-alang.

Sebelum dimasak, babi akan dipanah terlebuh dahulu. Masyarakat Papua percaya apabila babi tersebut lamgsung mati, pertanda acara akan sukses. Tetapi apabila tidak langsung mati pertanda acaranya tidak akan sukses.

  1. Tradisi Potong Jari untuk Keluarga yang Ditinggal Orang Terkasih

Dalam adat suku Dani, ada tradisi ketika masyarakat suku Dani kehilangan orang terkasih, maka mereka kan memotong jari mereka. Jari diartikan sebagai sebuah simbol kerukunan dan juga kekuatan dalam diri manusia.

Jari mempunyai bentuk dan panjang yang berbeda tetapi memiliki kesatuan dan meringankan beban pekerjaan manusia. Jari dipercaya sebagai sebuah kekuatan yang membuat tangan bisa berfungsi sempurna. Kehilangan salah satu ruas jadi akan mengakibatkan ketidak maksimalan fungsi tangan dalam bekerja.

Filosofi ini yang diambil masyarakat Dani ketika orang terkasih mereka meninggal, maka akan timbul ketidak seimbangan seperti halnya bila kehilangan ruas jari.

Selain itu, masyarakat Dani percaya bahwa seseorang yang sudah mati masih memiliki hubungan dengan mereka yang masih hidup dan untuk menyeimbangkan hubungan di antara mereka, maka mereka yang masih hidup harus menyerahkan sebagian rohnya kepada orang yang meninggal tersebut.

Tradisi ini biasanya dilakukan oleh wanita suku Dani. Proses pemotongan jari ini dimulai dengan sebuah upacara. Lalu tangan akan diikat antara sela-sela jari agar bisa dipotong dan tidak mengeluarkan banyak darah.

Sebelum dipotong jari, si wanita akan membaca doa ritual tersebut. Masyarakat Dani percaya bahwa perasaan duka karena ditinggal orang terkasih baru akan sembuh ketika luka dari jari yang dipotong tersebut sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi.

  1. Tradisi Ararem

Ararem adalah tradisi mengantar pengantin yang ada di Papua. Masyarakat suku Biak masih mempertahankan tradisi mengantar mas kawin ini. Ararem dilakukan dari seorang calon pengantin pria kepada calon pengantin wanitanya yang diantar secara adat. Dalam mengantarkan mas kawin tersebut, arak-arakan akan diiringi oleh musik dan wor.

Besarnya mas kawin sebelumnya telah ditentukan oleh kedua belah pihak keluarga. Upacara pengiringan atau yang dikenal dengan nama Yakyaker ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Kedua calon pengantin akan diawasi di rumah keluarga masing-masing, lalu si pengantin wanita akan diiring dengan arak arakan tari dan lagu wor ke rumah pengantin pria. Disanalah upacara pengukuhan perkawinan akan dilakukan.

Ada dua bagian dalam tradisi ararem ini. Pertama untuk me dan mebin (keluarga om, tante atau keluarga) berada dalam satu barisan tersendiri dan bertanggung jawab untuk menyerahkan mas kawin yang disebut Abobes kapar.

Bagian kedua adalah mas kawin Baken yang berada dalam keret atau klen utama pihak perempuan dari marga atau keluarga yang terkait hubungan kekerabatan. Peminangan akan dilakukan terlebih dahulu baru dilakukan pembayaran mas kawin kepada keluarga perempuan.

  1. Tifa Suku Kamoro

Tifa adalah alat musik berupa gendang kecil yang dibungkus oleh kulit biawak dan direkatkan oleh darah. Tifa mempunyai peranan penting dalam upacara adat suku-suku pesisir Papua. Tifa Kamoro menjadi menarik karena terbuat dari kayu waru pilihan yang diukir oleh para pria yang berperan sebagai Marawore atau pengukir dalam suku Kamoro.

Ukiran ini telah diturunkan dari zaman nenek moyang suku pesisir Timika yang memiliki motif manusia. Setelah ukiran selesai dan kulit biawak pun telah selesai dikeringkan, ritual untuk menyelesaikan proses pembuatan tifa pun dilakukan.

Lengan lelaki Kamoro akan diikat lalu ditoreh agar darah mengalir. Darah tersebut diambil menggunakan kulit siput dan dicampur dengan kapur. Campuran ini lalu dioleskan di sisi kulit biawak dan kayu waru sebagai perekat. Tifa merupakan wujud kebanggaan para pria Kamoro sehingga tidak ada wanita Kamoro yang memainkannya.

Tifa pun akan dijaga tetap bersih dan rajin dijemur agar kualitas kulit biawak tetap terjaga dan suara yang dihasilkan semakin bagus kualitasnya.

Itulah beberapa kebudayaan unik yang ada di tanah Papua. Tertarik merasakan ritualnya? Anda bisa mengagendakan untuk mengunjungi kota cendrawasih ini sebagai kota tujuan wisata budaya Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *