Perkembangan Ekonomi Papua Dulu dan Sekarang

By | Mei 15, 2016

Perkembangan ekonomi Papua dulu dan sekarang

Papua adalah negara yang kaya, Indonesia beruntung memiliki bagian negara ini. Papua adalah pulau paling Timur Indonesia yang memang belum merasakan kesetaraan pembangunan bila dibandingkan dengan Pulau Jawa. Papua masih jauh tertinggal dari berbagai sektor karena mungkin jaraknya yang terlalu jauh dari ibukota negara ini. Tetapi, bukan berarti tidak ada perkembangan yang terjadi di Papua. Hanya saja mungkin memang tidak terlalu pesat dan cepat seperti perkembangan yang terjadi di Pulau Jawa.

Perkembangan ekonomi di Papua tentu saja ada kaitannya dengan corak produksi di tanah tersebut. Corak produksi bisa diibaratkan sebagai kompas yang akan menentukan ke arah mana suatu masyarakat berkembang. Layaknya mikroskop yang bisa melihat ukuran makhluk mikroskopis, maka bila kita hendak menelusuri perkembangan ekonomi masyarakat Papua, maka kita pun perlu mengidentifikasi corak produksi yang terjadi di bumi Cendrawasih tersebut.

Masyarakat Papua diperkirakan telah menghuni Pulau Papua sejak 50.000 sampai 25.000 tahun silam dan telah berinteraksi dengan para penjelajah dari luar sejak abad VI dan VII. Walaupun sudah terjadi kontak antara penjelajah sejak abad VI dan VIII, namun corak produksi masyarakat Papua tidak terlalu terpengaruhi. Bisa dikatakan bahwa pada masa-masa pra-kapitalisme pun corak produksi Papua tetap sama seperti sebelumnya. Demikian pula hingga memasuki era kapitalisme yang dibawa oleh para penjajah-penjajah Indonesia, seperti Belanda.

Di zaman pra-kapitalisme, Masyarakat Papua memiliki corak produksi Komunal Primitif, atau yang dikenal dengan sebutan tribal society atau Masyarakat Tribal, yang sedang merangkak menuju corak produksi Masyarakat Perbudakan. Slavery Society atau Masyarakat Perbudakan adalah tatanan sosial peradaban baru pada masa tersebut. Sebagai informasi, pola produksi masyarakat tribal, pembagian kerja didasarkan pada pola-pola pembagian kerja tradisional yang ada di dalam keluarga.

Sebagai contoh, untuk mendapatkan makanan, tingkat paling rendah dilakukan dengan cara menangkap ikan disungai. Naik tingkat dengan cara beternak sederhana seperti memelihara binatang buas yaitu babi hutan, ayam liar dan meramu sagu. Tingkat teratas dalam mendapatkan makanan adalah bercocok tanam. Pola ini pun masih identik dengan ciri masyarakat sunsisten Papua saat ini.

Struktur masyarakat tribal ini pun terdiri dari keluarga, kepala keluarga laki-laki dan budak (terutama pada suku-suku di pesisir pantai utara yang memang sudah mengenal dan menerapkan kepemilikan budak bahkan sejak masa pra-kapitalisme). Sementara untuk Masyarakat Perbudakan, mereka memiliki corak produksi yang ditandai dengan sistem sosial kepemilikan budak.

Pola ini pernah terjadi di Eropa dalam tahapan perkembangan masyarakatnya. Sedangkan perbudakan yang terjadi di tanah Papua lahir sebagai akibat adanya pertentangan yang terjadi di dalam sistem sosial masyarakatnya. Sebagai contoh, hal ini terjadi karena adanya konflik perang antar suku untuk menguasai sumber daya yang tersedia, ataupun wanita, ataupun perluasan wilayah kekuasaan. Hal ini juga terjadi karena adanya pengaruh politik dan motif kekayaan.

Karena konflik inilah, kemudian ada klan-klan atau suku yang ditundukan oleh klan atau suku yang lain melalui perang. Siapa yang kalah perang, maka akan dijadikan budak, dilucuti hak-haknya sebagai manusia.

Selain karena kalah perang tersebut, perbudakan juga bisa terjadi karena seseorang tidak mampu membayar hutang sehingga harus menyerahkan dirinya sebagai hamba sebagai upaya dalam melunasi hutang tersebut. Yang nantinya terserah si Tuan ingin menjadikan budak tersebut sebagai apa. Status itu pun dapat melekat seumur hidup. Atau mereka bisa merdeka apabila ada penebusan.

Pada era kapitalisme, corak produksi masyarakat Papua pun tidak terlalu banyak berubah. Sebagian besar masyarakat Papua masih mengerjakan semua aktivitas yang berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai masyarakat subsisten.

Jadi pada masa kapitalisme pun corak produksi masyarakat Papua masih berkebun, beternak, meramu, menangkap ikan di sungai dan menjadi nelayan. Ada masyarakat Papua yang beralih ke profesi birokrat, buruh atau kaum pemilik modal yang telah menjadi janin borjuasi meskipun produktivitasnya masih lemah. Tetapi masyarakat yang beralih ke profesi-profesi tersebut hanya sebagian kecil saja.

Tentu saja bila kita menarik kesimpulan, memang perkembangan Papua dari zaman nenek moyang hingga saat ini tergolong lambat. Meskipun begitu, tetap ada perkembangan dalam kebudayaannya. Bila dibandingkan dengan masyarakat Eropa atau Asia lainnya yang sudah sangat berkembang corak produksinya dari sekian ratus hingga ribuan tahun yang lalu memang perkembangan corak produksi Papua ini jauh tertinggal.

Jika kita melihat ke Eropa Barat, dalam 300 tahun mereka telah sukses dalam pergantian sistem sosial dalam masyarakatnya. Daru tahapan perkembangan Masyarakat Komunal Primitif, menuju fase Masyarakat Perbudakan, lalu ke Masyarakat Feodal hingga akhirnya menuju ke Masyarakat Kapitalis.

Tahapan Perkembangan masyarakat Papua terjadi dengan corak produksi masyarakat komunal, dipaksa masuk langsung ke tahap masyarakat kapitalis. Bisa dikatakan masyarakat Papua mengalami lompatan peradaban atau jump of the civilization. Memang dalam teori kebudayaan, lompatan peradaban dapat saja menghasilkan penyesuaian-penyesuain (adaptasi) sebagai proses dialektika kebudayaan.

Namun pada masyarakat yang mengalami lompatan peradaban secara tidak wajar, biasanya akan mengalami apa yang disebut kejutan budaya (culture shock). Dampak negatifnya adalah keterasingan dan marginalisasi secara psikologis maupun fisik.

Itu adalah perubahan corak produksi di Papua. Untuk perubahan prasarana dan sarana di Papua saat ini sudah terbilang mulai merata. Di era pemerintahan yang baru ini, proyek transPapua dikebut dan sebagian besar wilayah saat ini sudah memiliki jalan bagus yang berasphalt. Selain itu, bila harga BBM yang sebelumnya sangat mahal di Papua ini, sejak Oktober 2016 lalu, harga BBM sudah distabilkan dan disamakan dengan yang dijual di seluruh Indonesia. Proyek pembangunan rumah tinggal pun terus ditingkatkan.

Pasokan listrik pun mulai memadai. Papua yang dulu hanya terbeersit sebagai Pulau primitif yang penuh hutan, saat ini sudah ada Mall, tempat-tempat makan, toko baju, hotel, bahkan koneksi wifi pun sudah tersedia. Daerah pelosok Papua mungkin memang masih belum bisa sepenuhnya mengalami perubahan karena akses menuju temoat tersebut yang memang sulit.

Namun, pemerintah terus membangun Papua agar pembangunan Indonesia merata di seluruh pelosok negerinya. Jadi jangan takut bila berkunjung ke Papua karena kota-kota besar di Papua sudah seperti kota-kota lain di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *